Antara Jateng – Harga gabah di Cilacap, Jawa Tengah, merangkak naik meskipun sebagian wilayah kabupaten ini sedang memasuki masa panen.
Informasi yang dihimpun ANTARA, Kamis, kenaikan harga gabah ini disebabkan kegagalan panen yang dialami petani akibat tanaman padinya roboh terkena hujan yang disertai angin dan serangan hama.
“Sawah saya yang luasnya seperlima bahu (satu bahu=7.000 meter persegi, red.) pada musim panen ini hanya menghasilkan 4 kuintal gabah kotor. Kalau sudah dikeringkan, mungkin tinggal 3 kuintal gabah,” kata Sutarto (58), petani di Desa Glempang, Kecamatan Maos, Cilacap.
Saat kondisi normal, kata dia, sawah seluas itu dapat menghasilkan sekitar satu ton gabah.
Terkait dengan hasil panen yang merosot tersebut, dia mengaku ragu untuk menjual gabahnya meskipun saat ini harga gabah mengalami kenaikan rata-rata sebesar Rp100 per kilogram setiap satu hingga dua hari.
Menurut dia, harga gabah untuk jenis beras kualitas rendah saat ini Rp2.900,00 per kilogram, kualitas medium Rp3.000,00/kg, dan kualitas super mencapai Rp3.200,00/kg.
“Kalau melihat hasil panen yang sedikit, saya akan simpan gabah ini untuk kebutuhan sehari-hari. Mungkin nanti sebagian akan dijual saat harganya tinggi untuk persiapan musim tanam mendatang,” katanya.
Petani lainnya, Sulardi (42), mengatakan gabah yang tanaman padinya roboh sehingga terendam air hanya dibeli oleh tengkulak dengan harga sebesar Rp2.400,00/kg.
“Bahkan, ada tengkulak yang membayarnya Rp1.900,00/kg. Dengan harga tinggi untuk gabah yang bagus saja belum bisa menutup biaya produksi, apalagi dengan harga rendah,” ujarnya.
Menurut dia, harga gabah yang saat ini telah mencapai kisaran Rp2.900,00-Rp3.000,00/kg tersebut belum bisa menutup biaya produksi petani karena beberapa komponennya, seperti pupuk, telah mengalami kenaikan harga.
“Kami benar-benar bingung meskipun harga gabah merangkak naik, hal itu belum bisa menyejahterakan petani karena beberapa harga kebutuhan pokok juga mengalami kenaikan,” katanya.






